Kamis, 14 Juni 2012

Petani Kopra Dusun Baku, Desa Batu Suya, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala


 Oleh : Adriansyah

Dusun Baku adalah dusun yang berada di Desa Batu Suya, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala. Dusun ini relatif terisolir karena untuk melaluinya hanya bisa dengan berjalan kaki atau menggunakan kendaraan beroda dua, jalannya setapak, berbatuan serta berjurang sehingga dalam melakukan perjalan ke dusun baku ini haruslah berhati-hati.

            Jarak tempu menuju dusun baku, dari desa batu suya adalah 1 km, selain jalannya yang setapak juga melewati sungai bernama Kayu Taba yang melintang atau memotong perbatasan dusun baku dengan dusun-dusun yang ada di desa Batu Suya.


Dusun Baku adalah dusun terpisah di antara Dusun lainnya yang  ada di Desa Batu Suya, penduduknya berjumlah 38 Kepala Keluarga (KK), mayoritas penduduk beragama Kristen Protestan, dalam pengelolaan sumber daya alam (SDA) orang Batu Suya sering melakukan kerja kolektif. Namun pun demikian, mereka juga tidak lepas dari sewa menyewa atau membayar upah pekerja (buruh) petani dalam proses pengelolaan lahan pertanian.

Hal itu disebabkan adanya desakan-desakan ekonomi, dimana uang menjadi produk orang harus bekerja keras walaupun dalam kesadaran mereka, kebiasaan itu bukanlah yang diinginkan. Seperti yang di bicarakan Marx bahwa orang teralienasi dari dirinya, orang harus bekerja untuk menghasilkan namun hasilnya tidaklah untuk kesejahtrannya. Begituplah dengan asumsi-asumsi Max Weber bahwa tekanan-tekanan ekonomi yang membuat orang harus berebut dalam mendapatkan belbagai macam alat produksi, seperti Marx menyebutnya alat-alat produksi seperti tanah dan mesin.

Pengaru ini membawa perubahan yang cukup menekan dan menggelisakan.

Mereka harus bertahan dan harus menerima tanpa harus iklas ditengah pertubuhan penduduk yang setiap tahunnya meningkat, sementara akses mereka terhadap tanah semakin sempit karena adanya klaim pemerintah atas hutan lindung, dan wilayah konsersvasi pemerintah sebagai tempat rekreasi atau wisata bagi mereka yang memiliki cukup uang. Disamping penguasaan tanah yang mulai luas dikuasai secara individu.

Jika melihat secara struktural pengaruh penguasaan tanah secara berlebihan ini dikarenakan adanya tekanan-tekanan ekonomi yang kemudian mendesak mereka harus memiliki tanah yang cukup luas untuk dijadikan lahan komoditi, misalnya dalam hal pendidikan anak dan meningkatnya kebutuhan pokok seperti makanan, pakaian dan alat-alat perumahan yang semakin mahal.

Penduduk Dusun Baku ini menggantungkan hidupnya sebagai petani kopra, cengkeh dan Cokelat sebagai sumber pendapatan. Mungkin ini menimbulkan pertanyaan bagi pembaca karena letak dusun ini memungkinkan penduduk dusun baku untuk melakukan aktifitas sebagai nelayan. Untuk menjelaskan hal diatas saya akan mencoba menarik sedikit history penduduk dusun baku.  

Sebagai mana temuan penulis, Dusun Baku adalah penduduk berasal dari Sangir yang dibawah koloni belanda untuk mencari rempa-rempa seperti kayu hitam (ebony). Pada waktu itu belanda dijajah oleh jerman, sehingga dengan kekuatan militer belanda yang juga dipaksa jerman untuk mencari dan mendapatkan rempah-rempah di Asia demi  kepentingan ekonomi, dimana jerman waktu itu dilanda krisis ekonomi dikarenakan gejolak ekspansi wilayah kekuasaan.

Cerita yang berkembang tentang keberadaan masyarakat dusun baku, hanya menceritakan tentang asal mereka namun tidak secara akurat menceritakan penyebab hingga mereka membuka lahan pertanian dan menetap sampai saat sekarang.  Sebelumnya mereka tinggal di desa kaliburu sebelah selatan dusun Baku.  Namun orang Baku kemudian dipindahkan pada tahun 1991 oleh Pemerintah Daerah, Kabupaten Donggala, dengan alasan bahwa pemukiman mereka sempit kemudian dijadikan bagian dari Desa Watu Suya.




Komoditi Pertanian Dusun Baku  

Masyarakat dusun baku mempunyai mata pencaharian utama sebagai petani Kopera, Cengke dan Cokelat. Adapun masyarakat yang gemar menangkap ikan, hanya sebatas keinginan untuk dijadikan lauk dan tidak untuk dipasarkan.

Kegiatan pertanian sudah dilakukan turun temurun sejak penduduk Dusun Baku ada. Di dusun Baku juga tidak terdapat perladangan padi ataupun sawah, sehingga penduduk dusun baku harus keluar membeli beras di Desa Batu Suya, itulah sebabnya mereka harus bekerja keras, mengolah lahan pertanian mereka yang dipenuhi oleh kelapa untuk mendapatkan hasil yang cukup untuk menunjang kebutuhan sehari-hari. Disamping menyekolahkan anak, dan sumbangan untuk pembangunan rumah ibadah. Hal demikian disebabkan corak tanah yang mereka tempati sangat cocok untuk ditami kelapa.

Selain itu alasan masyarakat dusun baku, memilih tanaman kelapa sebagai komoditi pertanian adalah kebiasaan mereka sejak dahulu yang ditunjukan sejak pendahulu mereka ada dalam bertani, mencari hasil hutan dan membongkar hutan untuk dijadikan sebagai basis ekonomi dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Jika dilihat kebiasaan penduduk dusun baku, berbeda dengan dusun-dusun lain yang ada di desa Batu Suya yang menggantungkan hidupnya sebagai nelayan, penangkap ikan.

            Sebagai petani kopra, penduduk dusun baku tentu saja tidak lepas dari berbagai macam masalah. Pertama, permainan harga yang ditentukan oleh pembeli kopra, ini tidaklah seimbang dengan biaya yang dikeluarkan dalam pengolahan dan perawatan tanaman kelapa.  Kedua, kenaikan harga bahan pokok dan ketiga, biaya pendidikan anak-anak mereka yang keluar menuntut ilmu di kota.

Adapun penghasilan petani kopra di dusun baku, berkisar rata-rata ‘tujuh puluh lima ribuh rupia’ per harinya, atau perbulanya petani kopra mendapatkan ‘satu juta rupia’. Jika dibandikan dengan harga beras yang mencapi ‘empat ratus ribuh rupia’ per kilo gram, maka tidalah cukup dipakai untuk menjadi dasar ekonomi, sebagaimana penduduk dusun baku menjadikan kopra sebagai basis ekonomi dalam memenuhi kebutuhannya setiap hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar