Oleh : Adriansyah
Dusun Baku adalah dusun yang berada
di Desa Batu Suya, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala. Dusun ini relatif
terisolir karena untuk melaluinya hanya bisa dengan berjalan kaki atau menggunakan
kendaraan beroda dua, jalannya setapak, berbatuan serta berjurang sehingga
dalam melakukan perjalan ke dusun baku ini haruslah berhati-hati.
Jarak
tempu menuju dusun baku, dari desa batu suya adalah 1 km, selain jalannya yang
setapak juga melewati sungai bernama Kayu
Taba yang melintang atau memotong perbatasan dusun baku dengan dusun-dusun yang
ada di desa Batu Suya.
Dusun Baku adalah dusun terpisah di antara Dusun lainnya
yang ada di Desa Batu Suya, penduduknya
berjumlah 38 Kepala Keluarga (KK), mayoritas penduduk beragama Kristen
Protestan, dalam pengelolaan sumber daya alam (SDA) orang Batu Suya sering
melakukan kerja kolektif. Namun pun demikian, mereka juga tidak lepas dari sewa
menyewa atau membayar upah pekerja (buruh) petani dalam proses pengelolaan
lahan pertanian.
Hal itu disebabkan adanya desakan-desakan ekonomi, dimana
uang menjadi produk orang harus bekerja keras walaupun dalam kesadaran mereka,
kebiasaan itu bukanlah yang diinginkan. Seperti yang di bicarakan Marx bahwa
orang teralienasi dari dirinya, orang harus bekerja untuk menghasilkan namun hasilnya
tidaklah untuk kesejahtrannya. Begituplah dengan asumsi-asumsi Max Weber bahwa
tekanan-tekanan ekonomi yang membuat orang harus berebut dalam mendapatkan
belbagai macam alat produksi, seperti Marx menyebutnya alat-alat produksi
seperti tanah dan mesin.
Pengaru ini membawa perubahan yang cukup menekan dan
menggelisakan.
Mereka harus bertahan dan harus menerima tanpa harus iklas
ditengah pertubuhan penduduk yang setiap tahunnya meningkat, sementara akses
mereka terhadap tanah semakin sempit karena adanya klaim pemerintah atas hutan
lindung, dan wilayah konsersvasi pemerintah sebagai tempat rekreasi atau wisata
bagi mereka yang memiliki cukup uang. Disamping penguasaan tanah yang mulai
luas dikuasai secara individu.
Jika melihat secara struktural pengaruh penguasaan tanah
secara berlebihan ini dikarenakan adanya tekanan-tekanan ekonomi yang kemudian
mendesak mereka harus memiliki tanah yang cukup luas untuk dijadikan lahan
komoditi, misalnya dalam hal pendidikan anak dan meningkatnya kebutuhan pokok
seperti makanan, pakaian dan alat-alat perumahan yang semakin mahal.
Penduduk Dusun Baku ini menggantungkan hidupnya sebagai
petani kopra, cengkeh dan Cokelat sebagai sumber pendapatan. Mungkin ini
menimbulkan pertanyaan bagi pembaca karena letak dusun ini memungkinkan
penduduk dusun baku untuk melakukan aktifitas sebagai nelayan. Untuk menjelaskan
hal diatas saya akan mencoba menarik sedikit history penduduk dusun baku.
Sebagai mana temuan penulis, Dusun
Baku adalah penduduk berasal dari Sangir yang dibawah koloni belanda untuk
mencari rempa-rempa seperti kayu hitam (ebony). Pada waktu itu belanda dijajah
oleh jerman, sehingga dengan kekuatan militer belanda yang juga dipaksa jerman
untuk mencari dan mendapatkan rempah-rempah di Asia demi kepentingan ekonomi, dimana jerman waktu itu
dilanda krisis ekonomi dikarenakan gejolak ekspansi wilayah kekuasaan.
Cerita yang berkembang tentang
keberadaan masyarakat dusun baku, hanya menceritakan tentang asal mereka namun
tidak secara akurat menceritakan penyebab hingga mereka membuka lahan pertanian
dan menetap sampai saat sekarang. Sebelumnya
mereka tinggal di desa kaliburu sebelah selatan dusun Baku. Namun orang Baku kemudian dipindahkan pada
tahun 1991 oleh Pemerintah Daerah, Kabupaten Donggala, dengan alasan bahwa
pemukiman mereka sempit kemudian dijadikan bagian dari Desa Watu Suya.
Komoditi
Pertanian Dusun Baku
Masyarakat
dusun baku mempunyai mata pencaharian utama sebagai petani Kopera, Cengke dan
Cokelat. Adapun masyarakat yang gemar menangkap ikan, hanya sebatas keinginan
untuk dijadikan lauk dan tidak untuk dipasarkan.
Kegiatan
pertanian sudah dilakukan turun temurun sejak penduduk Dusun Baku ada. Di dusun
Baku juga tidak terdapat perladangan padi ataupun sawah, sehingga penduduk
dusun baku harus keluar membeli beras di Desa Batu Suya, itulah sebabnya mereka
harus bekerja keras, mengolah lahan pertanian mereka yang dipenuhi oleh kelapa
untuk mendapatkan hasil yang cukup untuk menunjang kebutuhan sehari-hari. Disamping
menyekolahkan anak, dan sumbangan untuk pembangunan rumah ibadah. Hal demikian
disebabkan corak tanah yang mereka tempati sangat cocok untuk ditami kelapa.
Selain itu
alasan masyarakat dusun baku, memilih tanaman kelapa sebagai komoditi pertanian
adalah kebiasaan mereka sejak dahulu yang ditunjukan sejak pendahulu mereka ada
dalam bertani, mencari hasil hutan dan membongkar hutan untuk dijadikan sebagai
basis ekonomi dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Jika dilihat kebiasaan
penduduk dusun baku, berbeda dengan dusun-dusun lain yang ada di desa Batu Suya
yang menggantungkan hidupnya sebagai nelayan, penangkap ikan.
Sebagai
petani kopra, penduduk dusun baku tentu saja tidak lepas dari berbagai macam
masalah. Pertama, permainan harga
yang ditentukan oleh pembeli kopra, ini tidaklah seimbang dengan biaya yang
dikeluarkan dalam pengolahan dan perawatan tanaman kelapa. Kedua,
kenaikan harga bahan pokok dan ketiga,
biaya pendidikan anak-anak mereka yang keluar menuntut ilmu di kota.
Adapun penghasilan petani kopra di
dusun baku, berkisar rata-rata ‘tujuh puluh lima ribuh rupia’ per harinya, atau
perbulanya petani kopra mendapatkan ‘satu juta rupia’. Jika dibandikan dengan
harga beras yang mencapi ‘empat ratus ribuh rupia’ per kilo gram, maka tidalah
cukup dipakai untuk menjadi dasar ekonomi, sebagaimana penduduk dusun baku
menjadikan kopra sebagai basis ekonomi dalam memenuhi kebutuhannya setiap hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar